Selasa, 19 April 2011

Jika Wakil Rakyat Menjadi…


Kemaren sore gua sempet nonton acara Andai Aku Menjadi-nya Trans Tipi. Itu gara-gara cewe yang jadi peserta acaranya manis, jadi dah gua nonton itu acara sampe habis. Disitu cewe manis bernama Farah (kalo ga salah inget) tinggal bersama satu keluarga di sebuah dusun di daerah Gorontalo sana. (lagi naik daun neh daerah, gara-gara tokoh bernama Briptu Norman Kamaru he..he..). Keluarga yang terdiri dari suami istri yang udah lumayan renta dan sehari-harinya bekerja membuat peci dari anyaman sejenis rotan yang memang menjadi kerajinan khas Gorontalo.

Dalam acara itu gua disajikan gambaran sebuah keluarga yang kurang mampu secara ekonomi dan harus bekerja keras untuk membiayai kebutuhan hidup sehari-hari yang memang terasa berat.(setiap nonton acara ini gua selalu bersykur sama hidup yang gua punya). Meskipun kekurangan, tapi tidak tampak wajah mengeluh dalam diri Bapak Tengah (begitu Farah memanggil si bapak). Dia tetap menjalani kehidupan nya dengan baik bersama istri tercinta dengan tetap bersyukur kepada Tuhan.

Keadaan ini memang sepertinya bertolak belakang dengan berita dari para wakil rakyat yang saat ini sedang mengadakan studi banding ke Australia dan China. Tidak tanggung-tanggung, para anggota komisi VIII ini menghabiskan biaya 1 miliar lebih hanya untuk mempelajari bagaimana parlemen di dua Negara itu mengurusi rakyat miskin. ngapain jauh-jauh kesana, bila dinegara ini aja masih banyak rakyat miskin yang hidupnya masih membutuhkan uluran tangan dari pemerintah.

Kenapa para wakil rakyat itu tidak melihat kondisi rakyat miskin disini saja daripada menghabiskan uang rakyat untuk studi banding yang ujung-ujungnya pasti hanya sekedar jalan-jalan menghamburkan uang. sampai saat ini tidak pernah terlihat bagaimana hasil dari studi banding itu. tidak jelas prakteknya seperti apa, dan laporannya mungkin hanya menjadi dokumen yang menumpuk di meja kerja masing-masing anggota.

Gua cuma ngebayangin, seandainya peserta dari acara Jika Aku Menjadi ini adalah para anggota DPR. Dimana mereka harus menjalani hidup prihatin bersama para keluarga kurang mampu yang ada di setiap daerah. Nantinya mereka biar merasakan menjadi bagian dari keluarga yang kurang mampu dan hidup serba kekurangan, dimana untuk makan saja mereka susah apalagi untuk membeli barang keperluan lainnya. Para anggota DPR ini bisa melihat dan merasakan sendiri bagaimana untuk mendapatkan uang mereka harus berjibaku mati-matian melawan segala macam halangan dan rintangan. Kalau perlu para anggota DPR ini suruh nyebur ke sawah, memberi makan sapi sampe harus menyalakan lilin bila malam menyapa karana di desa itu belum ada penerangan yang memadai. (kan manteb tuh ngeliat mereka yang biasanya pake dasi, kini harus berkotor-kotor ria di lumpur he..he..).

Satu persatu dari mereka disebar ke seluruh pelosok Indonesia dan merasakan bagaimana rasanya bila menjadi rakyat kecil dan kegiatan mereka semua direkam dan disiarkan televise. Mungkin seluruh rakyat yang menonton acara ini bisa lebih bersimpatik dengan wakil rakyat ini karena mereka mau menjadi rakyat jelata yang selama ini mungkin tidak pernah mereka rasakan. Selama ini pemandangan yang kita lihat dari para wakil rakyat itu adalah kehidupan yang penuh kenikmatan dengan harta berlimpah beserta mobil-mobil mewah seri terbaru (lengkap dengan Ipad yang bisa mengakses situs-situs bokep tentunya he..he..) dan itu sangat jauh dari kesan merakyat.

Seandainya para wakil rakyat mau mengikuti acara seperti ini, tentu saja banyak manfaat yang bisa mereka ambil untuk bahan rujukan bagaimana caranya membangkitkan kehidupan masyarakat yang kurang mampu. Mereka bisa menjadikan pelajaran ini untuk kemudian mereka bahas didalam rapat dewan dan memutuskan sebuah keputusan yang nantinya berpihak kepada rakyat jelata. Dengan begitu mereka nantinya akan mendapatkan simpati rakyat dan bukan tidak mungkin mereka akan terpilih lagi pada pemilu yang akan datang. (kan enak tuh bisa lima tahun lagi duduk di kursi empuk sambil tidur dan dapet gaji gede he..he..).

Mungkin itu cuma bayangan gua doang. Sulit rasanya membuat para wakil rakyat itu bisa merasakan bagaimana rasanya hidup bersama dan menjadi masyarakat yang kurang mampu. Mungkin yang mereka tau adalah bagaimana mereka bisa mendapatkan uang sebanyak-banyaknya untuk keluarga, golongan dan partai mereka saja, selain itu bukan urusan mereka. Bahkan sampai saat ini keinginan untuk membangun sebuah gedung baru masih saja mereka dengung-dengungkan ditengah semakin banyaknya rakyat miskin yang kelaparan.

Lagu Wakil Rakyat dari Iwan Fals masih mengalun merdu menemani gua menulis. Samar-samar terdengar liriknya yang berbunyi… wakil rakyat…seharusnya merakyat… jangan tidur… waktu sidang soal rakyat…. Ah mungkin saat itu inspirasi Bang Iwan membuat lirik lagu saat melihat banyak anggota DPR yang tidur pas sidang sedang berlangsung. Mungkin kalo Bang Iwan melihat perkembangan terakhir dari ulah anggota DPR , mungkin saja liriknya akan berbunyi , wakil rakyat… seharusnya merakyat… jangan nonton bokep…. Waktu sidang soal rakyat… he..he..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar