Kamis, 07 April 2011

Apakah Sebaiknya Kita Menjadi Bangsa Penonton Saja…


Mari kita kembali ke lapangan pemirsa….., saat ini Firman Utina sedang Membawa bola, iya dia masih terus menggiring bola….. mencari teman yang berdiri bebas, lalu oper ke Irvan Bachdim…, Irvan membawa bola…., melewati seorang pemain belakang lawan lalu oper kembali ke Gonzalez yang tidak terkawal …dan Gollllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllll……………

Ya itu mungkin pemandangan yang awal Januari lalu kita saksikan lewat perhelatan Piala AFF, dimana seluruh mata rakyat Indonesia menyaksikan Irvan Bachdim dkk berjuang untuk membawa Indonesia menjadi juara piala AFF. ya... meskipun pada akhirnya kandas di tangan Malaysia pada partai puncak yang membuat kecewa seluruh rakyat Indonesia.

Tak lama setelah perhelatan piala AFF di Indonesia, lalu terjadilah ‘Badai’ (widih bahasanya, kalah dah tuh angin puting beliung he..he..) bagi persepakbolaan Indonesia. Dimana Organisasi yang mengurusi Sepak bola, PSSI, mengalami kekisruhan saat Ketuanya, Nurdin Halid, kembali mencalonkan diri sebagai Ketua Umum untuk satu periode ke depan. selain itu, pencoretan dua nama bakal calon ketua yakni George Toisuta dan Arifin Panigoro juga menjadi polemik tersendiri. Hal ini sontak memancing ribuan pecinta sepak bola negeri ini melakukan aksi demo untuk menolak Nurdin mencalonkan kembali sebagai ketua umum PSSI.

Setiap hari sejak bulan Febuari kemarin sampai hari ini berita-berita media cetak dan elektronik selalu dihiasi berita mengenai kekisruhan yang terjadi di tubuh PSSI. Mulai dari Nurdin yang tidak mau mundur, demo yang terjadi di PSSI menuntut reformasi di tubuh PSSI, sampai ikut campur tangan nya pemerintah melalui Menteri Pemuda dan Olahraga dan berita terakhir yang sekarang terjadi adalah ditunjuknya Agum Gumelar sebagai orang yang bertugas untuk menyelenggarakan kongres untuk memilih calon Ketua Umum PSSI yang baru.

Kalo bicara sepak bola Indonesia… maka yang ada dalam pikiran gua adalah… kerusuhan pendukung sepak bola, penyerangan dan pemukulan wasit, pengaturan skor sampai-sampai yang paling parah adalah pertandingan yang dijual ke mafia judi di Malaysia seperti yang kemaren sempat ramai dibicarakan. Ya hanya itulah yang mungkin kita dengar dan saksikan dari persepakbolaan di Indonesia. Sory..., bukannya gua pesimis melihat sepak bola di Indonesia tapi yang terjadi saat ini masihlah seputar kejadian itu.

Tapi ada satu yang menggembirakan dari pecinta bola di Negara ini, yaitu kegemaran yang sangat tinggi untuk menyaksikan sebuah pertandingan sepak bola baik itu pertandingan yang terjadi di dalam negeri maupun pertandingan yang melibatkan tim-tim yang berlaga di Liga-liga Eropa seperti liga Inggris, Italia, Spanyol dan juga liga Champions Eropa. Iya…, masyarakat negeri ini memang salah satu penonton sepak bola ter-fanatik yang mungkin ada di dunia. Lihatlah… betapa kita rela bangun di pagi dini hari demi menyaksikan tim-tim kesayangan seperti Mancester United, AC Milan, Bayern Munchen, Chelsea, Real Madrid, Barcelona dan tim-tim besar lainnya berlaga di liga lokal maupun liga Champions.

Ya… kalo dipikir-pikir apa hubungan nya kita dengan tim besar itu…sama Cristiano Ronaldo aja mungkin kita engga pernah ketemu he..he.. , tapi kita bisa sebegitu fanatiknya membela tim kesayangan kita saat bertanding . Kaya gua misalnya yang mati-matian membela tim kesayangan AC Milan saat Milan bertanding melawan rival-rivalnya baik itu di liga Italia maupun di Champions. Eforia ini bahkan akan semakin tinggi begitu gelaran piala dunia maupun piala Eropa berlangsung. Berapa banyak dari kita yang rela beli kostum Negara kesayangan (baik yang asli maupun abal-abal he..he..) bahkan kita rela kaga tidur demi menyaksikan Brazil melawan Inggris misalnya. Ya meskipun kita tidak menyaksikan pertandingan itu secara langsung di Negara yang menggelar perhelatan Piala Dunia tapi pasti kalo soal hebohnya bolehlah di adu dengan penonton yang menyaksikan langsung di stadion.

Kalo engga percaya coba aja sekali-kali dateng ke perhelatan nonton bareng yang di gelar di café-café ataupun dilapangan kampung kita tinggal, pasti kita akan meloncat dan teriak-teriak ketika tim kesayangan kita menang bahkan mungkin kalah tuh suara ayam jago berkokok di pagi hari sama teriakan kita yang bisa membangunkan orang satu kampung he..he.. tapi ya itulah…. Kita memang mungkin selalu bereforia tinggi kalo ada pertandingan-pertandingan Piala Dunia maupun Piala Eropa.

Makanya mungkin gua berangan-angan dan menghayal, apakah sebaiknya kita hanya bisa menjadi bangsa penonton saja yang selalu bereforia menyambut Liga-liga Eropa di gelar. Berkhayal seandainya uang bermilar-miliar yang disalurkan ke PSSI itu kita gunakan buat membeli hak siar semua liga yang bagus dan bermutu. Maka kita semua akan dimanjakan dengan pertandingan-pertandingan yang membuat kita teriak-teriak saat tim andalan kita bisa menjadi juara liga ataupun Eropa. Kita bisa menyaksikan semua pertandingan tersebut di televise swasta nasional secara gratis dan bukan di televise langganan berbayar yang mungkin membuat kantong kita menipis he..he..

Gua memang salah satu orang yang pesimis terhadap persepakbolaan di Indonesia, setiap kali gua menyaksikan pertandingan-pertandingan di Liga Super Indonesia bareng bokap yang gua dapet hanyalah pertandingan kacangan dan bermutu rendah (Dulu Alm Bokap adalah penggemar Persija). gua selalu di berikan pemandangan pemain yang mengejar wasit, pemain yang berkelahi dengan pemain lain dan bahkan ada manager tim yang memukul wasit seperti yang dilakukan Yoyok Sukawi ketika timnya PSIS dirugikan. Apa yang mau dibanggakan dari pertandingan seperti itu.

Mungkin kita akan selalu bermimpi kalo Timnas kita bisa bermain di Piala Dunia, kalau di Asia Tenggara saja kita tidak bisa mengalahkan Negara arogan Malaysia. Dan mungkin hanya mimpi juga kita bisa menelurkan 20 anak bangsa yang jago maen bola kalo pertandingan yang digelar masih seperti itu. apakah kita harus menaturalisasi 20 pemain asing untuk membela Negara ini baru bisa menjadi juara, wah jangan sampe dah… mau di taro dimana neh muka kalo mencari 20 anak bangsa saja sama susahnya mencari jarum di dalam jerami.

Gua sebenernya engga mau angan-angan gua kalau kita hanya jadi bangsa penonton ini menjadi kenyataan . gua engga mau Indonesia persepakbolaan nya hancur bahkan bubarkan saja PSSI dan kita tidak usah menggelar pertandingan sama sekali. Tapi apa yang mau diharapkan kalau persepakbolaan kita hanya berjalan ditempat, kan sayang tuh anggaran bermiliar-miliar yang sudah dikeluarkan demi menggelar satu Liga yang tidak pernah menghasilkan apa-apa juga.

Mungkin kongres yang mau diadakan ini bisa membawa angin segar buat persepakbolaan Indonesia, dan semoga komite yang diketuai Agum Gumelar bisa menjaring calon-calon ketua umum yang bermutu dan berkualitas dalam mengurus persepakbolaan Indonesia dan suatu hari nanti kita bisa melihat Timnas kita menjadi juara di AFF dan kita tidak lagi membanggakan liga Eropa sebagai kiblat sepak bola karena Liga Indonesia tidak kalah bagusnya dengan liga-liga benua biru sono. Semoga tidak ada lagi pemandangan pemain mengejar wasit, pengaturan skor, kerusuhan antar pemain maupun antar penonton dan satu lagi yang paling penting semoga kedepan nya tidak ada lagi Ketua Umum macam si Nurdin iitu he..he..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar