Senin, 13 Juni 2011

Lambaikan tangan mu…. Dan dia pun berhenti…


Setiap pagi didalam busway yang membawa gua kearah Slipi, gua selalu melihat pemandangan orang-orang dipinggir jalan lagi pada mengulurkan tangan dan mencoba menyetop mobil-mobil yang lewat. (lagi ngapain tuh orang-orang pada nyetop mobil dijalan, kirain Cuma polisi doang yang kebiasaan nyetop mobil he..he..). Mereka adalah joki (bukan yang dibayar buat ikut ujian di Perguaruan tinggi ya) yang setiap pagi banyak ‘berkeliaran’ dijalan-jalan protokol kaya jalan Gatot Subroto yang gua lewatin tiap hari.

Mereka berdiri di pinggir jalan, tepatnya sebelum perempatan kuningan dan berdiri berjejer dengan jarak yang tidak jauh (bejejer ngarti kan, bukan bebaris ya, tar mereka upacara lagi he..he..) untuk mencoba menawarkan jasa mereka kepada para pengemudi yang kebetulan lagi sendirian didalam mobil. Mereka berusaha memberhentikan mobil-mobil dengan mengacungkan tangan (bukan mengacungkan jari tengah ya he..he..) dan berharap ada satu mobil yang berhenti dan membawa mereka sampai tempat yang aman dari aturan yang menyesatkan itu.(menyesatkan menurut pengemudi ya karena bisa membuat mereka tekor he..he..).

Biasanya pengemudi yang kesepian (alias seorang diri di mobil he..he..) akan menggunakan jasa joki ini bila tidak ingin di tilang polisi karena melanggar peraturan bernama Theree in One (udah tau kan maksudnya, kira-kira artinye harus ada 3 orang didalam satu mobil, itu kalo ga salah inget ya, soalnya gua udah lama engga jadi joki he..he..).

Sebelum masuk jalur ( maut ) ini, biasanya pengemudi tertarik untuk mengajak para joki ini menjadi penumpang ‘gelap’ (kalah tuh mati lampu he..he..) biar mereka tidak diberhentikan polisi yang biasanya berjaga dipinggir jalan (dan berharap ada pengemudi yang melanggar peraturan terus berusaha mengajak damai dengan menyempalkan duit di jari tangan mereka lalu terjadilah kesepakatan win-win solution he..he.. damai maksudnya… ) .

Balik lagi ke profesi Joki ini, gua selalu melihat seorang perempuan muda (Mba-mba lah) yang berdiri didepan halte busway tegal parang.(ngeliat dibalik kaca busway maksudnya he..he..). Sosoknya yang gempal (pendek dan agak gemuk) selalu terlihat semangat melambaikan tangan kearah mobil yang melewati daerah situ. Terkadang gua lihat ada mobil yang berhenti dan mengajak nya masuk kemudian berlalu seiring menghilang nya mobil tersebut dalam keramaian.

Tapi tak jarang gua ngeliat dia masih terus berusaha mencari pengemudi yang mau memakai jasanya dan seperti tidak kenal kata menyerah, dia terus saja melambaikan tangan meskipun raut mukanya sudah mulai mengkerut (mungkin khawatir kalau hari itu dia tidak dapet satu pun pengemudi yang mau memakai jasanya sebagai joki).

Keesokan harinya gua kembali melihat dia dengan raut wajah ceria ketika sedang ngobrol-ngobrol dengan teman sesama joki lainnya. Sepertinya dia optimis akan ada pengemudi mobil yang akan mengajaknya naik dan membawanya jalan-jalan sampai diakhir perjalanan dia akan menerima bayaran yang diharapkannya. Mba-mba ini sepertinya sudah punya langganan yang setiap hari selalu mengajaknya dan dia seperti sudah hapal ketika mobil itu menghampirinya dapat dipastikan senyum mengembang dibibirnya dan hari itu minimal ada rezeki yang masuk ke kantungnya.

Kadang-kadang gua miris juga ngeliat banyaknya joki yang berkeliaran dipinggir-pinggir jalan ibukota ini, mungkin mereka berusaha mencari makan dengan cara menyetop mobil-mobil dipinggir jalan. Engga Cuma pagi doang mereka beroperasi, malem saat gua pulang pun pemandangan serupa akan gua jumpai. (karena sore menjelang malam peraturan there in one ini juga berlaku).

Tapi apa mau dikata, selama lahan ini bisa menghasilkan duit maka disitulah para Joki akan tetap berkeliaran dan mencoba mengadu nasib mereka dijalan. (asal jangan mengadu domba aja ya, bisa ditangkep polisi nanti masa dijalan ngadu domba he…he..). Mungkin menurut mereka jadi joki relative aman dari operasi-operasi yang digelar Polisi Pamong Praja yang terkadang kurang manusiawi dalam memperlakukan kaum tidak mampu negeri ini. (kan engga bisa tuh petugas Pol PP masuk-masuk kedalam mobil orang, yang ada dia yang benjol nanti he..he..).

Gua kemaren-kemaren sempet denger selentingan kabar kalo sistem theree in one akan diganti dengan sistem baru (namanya gua belum hapal. Yang pasti bukan buka tutup kaya di puncak sono ya he..he..) . sistem yang namanya gua lupa ini konon kabarnya bisa lebih efektif dalam meminimalisir jumlah kemacetan di Jakarta. (Macet Jakarta bisa diminimalisir ? kayanya kaya ngebayangin Mangga jatuh dari Pohon duren he..he.. alias kaga bakalan dah kejadian Jakarta bisa berkurang macetnya he..he..).

Kalau memang sistem ini nantinya diberlakukan, mungkin para Joki ini akan kehilangan mata pencaharian mereka. (ya kaga bakal ngeliat mba-mba itu lagi dah gua he..he..). Selama ini mungkin dengan menjadi joki, mereka bisa menghidupi diri dan keluarga mereka. Mungkin juga banyak dari mereka yang selama ini berprofesi sebagai anak jalanan dan pengemis di perempatan-perempatan sekarang berpindah menjadi joki karena mendatangkan tambahan nafkah. (kalo biasanya mereka dekil-dekil, pas jadi Joki mereka necis-necis dah gayanya he..he.., kalah tuh gayanya om-om sama tante-tante kalo lagi mau ke pesta he..he..).

Entahlah...mau seperti apa nantinya,(gua juga engga punya solusi untuk masalah ini he..he..). Satu yang pasti saat ini gua lihat mereka sangat menikmati pekerjaan menjadi joki. Mungkin mba-mba itu dan juga joki-joki lainnya yang ada di Jakarta akan tetap melambaikan tangannya dijalan sampai ada pengemudi yang mau mengajaknya naik ke mobil. (engga peduli mobil mewah atau mobil butut he..he.., yang penting mereka dibayar). Pokoknya engga pake banyak jurus-jurus maut, cukup pake satu jurus mujarab yang satu ini…. Lambaikan tanganmu….. dan dia pun berhenti….

Tidak ada komentar:

Posting Komentar