Minggu, 12 Juni 2016

PMI Riwayatmu Kini



Palang Merah Indonesia (PMI), mendengar namanya, mungkin selama ini lembaga kemanusiaan yang satu ini identik dengan darah. Ketika Anda ataupun kerabat membutuhkan darah, yang terpikir pertama kali cara untuk mendapatkan pasokan darah pastilah PMI. Iya, PMI selama ini memang identik dengan kegiatan donor darah, baik itu yang membutuhkan ataupun yang mendonorkan darah pastilah semua melalui PMI. 
 
Palang Merah Indonesia yang tidak hanya identik dengan donor darah (foto : dokumen PMI)

Namun belakangan pelan-pelan image PMI berubah menjadi Lembaga Kemanusiaan yang memberikan bantuan sukarela baik berupa medis, tenaga sukarelawan yang terjun langsung ke medan bencana untuk membantu korban bencana alam. Kiprah PMI melalui para sukarelawannya di lapangan perlahan-lahan mulai mendapatkan tempat di hati masyarakat. Para Sukarelawan PMI terlihat bahu membahu dengan aparat terkait lainnya ketika ada musibah terjadi di Indonesia. Bahkan di beberapa kesempatan, Sukarelawan PMI menjadi garis terdepan dalam penanganan bencana seperti saat bencana Tsunami Aceh pada tahun 2004 lalu. 

Saat itu sukarelawan PMI menjadi bala bantuan yang pertama masuk ke Aceh untuk menolong para korban bencana tsunami. Mereka terjun langsung dengan menolong korban selamat dan mendirikan posko-posko kemanusiaan untuk membantu mereka yang selamat dari terjangan dahsyat tsunami. Lewat Ketua Umumnya, Bapak Jusuf Kalla, PMI menjadi lembaga kemanusiaan yang mendapat simpatik masyarakat Indonesia berkat perannya dalam salah satu bencana terhebat yang pernah dialami negeri ini. 

Bicara mengenai sukarelawan, PMI sudah memulai perekrutan dari tingkat paling dasar  yakni dengan membentuk  PMR MULA setingkat SD lalu ada PMR MADYA setingkat SMP dan PMR WIRA setingkat SMA. Selain itu, belakangan PMI juga memiliki program Corporate Volunteers yang merupakan relawan yang terlahir dari kalangan tenaga professional perusahaan. Program ini memberikan wadah baru kepada perusahaan dan tenaga professional untuk berpartisipasi dalam misi kemanusiaan PMI. Corporate Volunteers tergabung dalam Tenaga Suka Rela (TSR) PMI yang difokuskan pada kontribusi keahlian dan keterampiln masing – masing individu yang langsung dapat di aplikasikan dalam kondisi bencana maupun normal.
Mba Rofi dari PMI saat memperkenalkan program sukarelawan PMI
Dalam sebuah presentasi di Sarasehan Tau Dari Blogger (TDB) bersama PMI yang saya ikuti, Rofi dari PMI  mengulas mengenai Relawan yang ada di PMI. PMI memiliki beberapa tingkatan relawan mulai dari relawan tingkat Mula, Madya, Wira, Sukarela hingga TSR yang berisi profesional-profesional dari berbagai profesi.  Rofi menjelaskan relawan PMI tidak hanya melulu mengenai donor darah namun juga membantu setiap kegiatan PMI sehari-hari termasuk juga membantu PMI saat ada bencana alam. “Relawan-relawan PMI ini memiliki latar belakang profesi yang berbeda mulai dari IT, arsitek, dokter hingga jurnalis. Mereka membantu PMI sesuai dengan bidang dan keahlian yang dimiliki” ungkap Rofi. 

Rofi juga menjelaskan, sebelum menjadi relawan, para calon relawan PMI ini akan diberi materi pembekalan.  Relawan-relawan PMI akan memiliki bekal kemampuan yang sesuai dengan prosedur yang ada di PMI. Ketika suatu saat  terjadi bencana alam, mereka diharapkan siap diterjunkan ke medan bencana untuk membantu korban bencana alam. “ Siapa saja bisa menjadi relawan PMI. Syaratnya pun mudah, hanya mengisi data diri dalam formulir calon relawan dan nanti relawan-relawan ini akan dibekali ID Card Relawan PMI” ungkap Rofi.

PMI memiliki beberapa tingkatan relawan mulai dari relawan tingkat Mula, Madya, Wira, Sukarela hingga TSR yang berisi profesional-profesional dari berbagai profesi.  Rofi menjelaskan relawan PMI tidak hanya melulu mengenai donor darah namun juga membantu setiap kegiatan PMI sehari-hari termasuk juga membantu PMI saat ada bencana alam. “Relawan-relawan PMI ini memiliki latar belakang profesi yang berbeda mulai dari IT, arsitek, dokter hingga jurnalis. Mereka membantu PMI sesuai dengan bidang dan keahlian yang dimiliki” ungkap Rofi. 
Peranan para sukarelawan di PMI salah satunya ikut langsung berkontribusi dalam bencana
Rofi juga menjelaskan, sebelum menjadi relawan, para calon relawan PMI ini akan diberi materi pembekalan.  Relawan-relawan PMI akan memiliki bekal kemampuan yang sesuai dengan prosedur yang ada di PMI. Ketika suatu saat  terjadi bencana alam, mereka diharapkan siap diterjunkan ke medan bencana untuk membantu korban bencana alam. “ Siapa saja bisa menjadi relawan PMI. Syaratnya pun mudah, hanya mengisi data diri dalam formulir calon relawan dan nanti relawan-relawan ini akan dibekali ID Card Relawan PMI” ungkap Rofi.

Tidak hanya relawan, Pada tahun 2013 – 2014 PMI melakukan penelitian pemetaan kerentanan iklim daerah aliran sungai Ciliwung. Hasilnya, April kemarin PMI melakukan peluncuran infografis dan video grafis hasil penelitian di Wisma PMI Jakarta.
 Dalam melakukan penelitian ini, PMI tidak sendiri melainkan bekerjasama dengan Institut Teknologi Bandung serta mendapat dukungan dari Palang Merah Amerika. Riset di sini meliputi kerentanan, kebencanaan, kerentanan iklim, dan  kapasitas adaptif yang terjadi di Wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung. Dalam sambutannya, Ketua Pelaksana Harian Palang Merah Indonesia, Ginanjar Kartasasmita, mengungkapkan, PMI tidak bisa bekerja sendiri dalam mengatasi masalah bencana yang terjadi di Indonesia, untuk itu PMI menggandeng pihak-pihak terkait yang dapat membantu mengatasi masalah bencana di Indonesia.  Sementara,  Kepala perwakilan Palang Merah Amerika di Indonesia,  Tom Alcedo, dalam sambutannya, lebih menyoroti mengenai pentingnya koordinasi dan komunikasi antar pemangku kepentingan.  
Peluncuran Infografis dan Videografis oleh PMI pada bulan April lalu

Tidak hanya meluncurkan infografis dan videografis, dalam acara itu PMI juga mengadakan diskusi yang menghadirkan Dr. Armi Susandi dari ITB, Pengamat tata Kota, Yayat Supriatna, dan Kadiv Penanggulangan Bencana PMI Pusat, Arifin Muhamad Hadi. Dalam diskusi, pengamat tata ruang perkotaan, Yayat Supriatna, mengungkapkan agar kota-kota di sekitar Jakarta untuk memperbaiki tata ruang agar tidak mengalami bencana. “Banjir di Pondok Gede Permai, Bekasi, kemarin menjadi bukti ada yang salah pada tata ruang di daerah aliran sungai Cikeas” ungkap Yayat yang menyoroti musibah banjir yang baru saja terjadi akibat jebolnya tanggul Sungai Cikeas tersebut.

Sementara Arifin lebih menyoroti program-program yang sudah dilakukan PMI selama ini. Pelatihan-pelatihan yang dilakukan untuk masyrakat dalam rangka penanggulangan banjir serta membuat lubang-lubang biopori di wilayah Bogor. “PMI memiliki concern untuk membantu masyarakat agar memiliki inisiatif untuk mengatasi bencana di wilayahnya” ungkap Arifin. 
Ginanjar Kartasasmita memberikan sambutan

Tidak hanya sekedar melakukan peluncuran infografis dan videografis, PMI juga mengadakan kegiatan susur sungai DAS Ciliwung di dua wilayah. Untuk wilayah Bogor, Jalur yang diambil mulai dari Desa Sukahati. Karadenan, Pondok Rajek, Kedung Waringin. Sementara untuk wilayah Jakarta Utara, jalur yang diambil mulai dari Kelurahan Ancol, Penjaringan, dan Pademangan.  Acara ini selain diikuti oleh relawan PMI, juga ada blogger, dan masyarakat sekitar yang ikut terlibat.

 Melihat kebelakang, sejarah Lahirnya Palang Merah Indonesia dimulai pada 21 Oktober 1873 saat pemerintah colonial Belanda mendirikan organisasi Palang Merah di Indonesia dengan nama Het Nederland-Indiche Rode Kruis (NIRK) yang kemudian namannya menjadi Nederlands Rode Kruiz Afdelinbg Indie (NERKAI). Selanjutnya pada 1932 timbul semangat untuk mendirikan Palang Merah Indonesia (PMI) yang dipelopori oleh dr. RCL. Senduk dan Bahder Djohan. Kemudian, proposal pendirian diajukan pada kongres NERKAI (1940), namun ditolak. Pada saat penjajahan Jepang, proposal itu kembali diajukan, namun tetap ditolak. 

Tahun demi tahun berganti, pada 3 September 1945 Presiden Soekarno memerintahkan kepada Menteri Kesehatan dr. Buntaran Martoatmodjo untuk membentuk suatu Badan Palang Merah Nasional untuk menunjukan kepada dunia internasional bahwa keberadaan Negara Indonesia adalah suatu fakta nyata setelah proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Pada tahun 1950, PMI terus melakukan pemberian bantuan hingga akhirnya Pemerintah Republik Indonesia Serikat mengeluarkan Keppres No. 25 tanggal 16 Januari 1950 dan dikuatkan engan Keppres No. 246 tanggal 29 November 1963. Pemerintah Indonesia mengakui keberadaan PMI.

Adapun tugas utama PMI berdasarkan Keppres RIS No. 25 tahun 1950 dan Keppres RI No. 246 tahun 1963 adalah untuk memberikan bantuan pertama pada korban bencana alam dan korban perang sesuai dengan isi Konvensi Jenewa 1949.
Pada tahun 1950, secara Internasional, keberadaan PMI diakui oleh Komite Palang Merah Internasional (ICRC) pada 15 Juni 1950. Setelah itu, PMI diterima menjadi anggota Perhimpunan Nasional ke-68 oleh Liga Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (Liga) yang sekarang disebut Federasi Internasional Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC) pada Oktober 1950.

Tahun berganti dan jaman pun berubah, namun PMI tetap menjadi lembaga kemanusiaan yang memiliki komitmen untuk membantu korban bencana alam di belahan bumi nusantara. Saat ini, PMI telah berdiri di 33 Provinsi, 371 Kabupaten/Kota dan 2.654 Kecamatan (data per-Maret 2010). PMI mempunyai hampir 1,5 juta sukarelawan yang siap melakukan pelayanan. 


Maju terus PMI, tetaplah menjadi yang terdepan menjadi lembaga kemanusiaan yang bergerak dengan penuh militansi melalui sukarelawan-sukarelawan yang bekerja tanpa pamrih di manapun dan untuk siapa pun. 

Foto-foto : dokumen pribadi dan PMI

1 komentar: