Langsung ke konten utama

"Di Ke warnet lagi yu"

kemarin malem waktu gua pulang kerja, di angkot yang gua tumpangin
naeklah dua orang bocah yang masih berumur sekitar 11 sampai 12 tahun dengan
membawa buku pelajaran tebel yang abis di fotocopy. sambil duduk berhadapan
maka terjadilah percakapan seperti ini

Adul (bukan nama sebenernya, karena kemaren gua ga sempet kenalan) : lu boleh pulang jam sepuluh ga?

Jupri (Idem ) ga boleh sih, biasanya dicariin gua.

Adul : kite maen paketan di warnet deket rumah gua aja

Jupri: di situ 3 jam 8000 doang

Adul : uang lu ada berapa di kantong

Jupri : kaga punya uang gua

Adul : ya boong lu, gua tau uang lu banyak kan tuh dikantong.

setelah itu mereka berdua akhirnya setuju untuk mampir ke warnet dulu dan bermain
game yang ada di sediakan internet.

gua sebenernya engga begitu banyak tau tentang game-game yang ada di internet, tapi
yang terjadi sekarang banyak anak-anak kecil yang hobi berlama-lama di warnet
untuk bermain game bahkan mereka rela uang jajan nya dihabiskan untuk "berfoya-foya" di warnet yang menyediakan jasa game online demi kesenangan mereka terhadap game-game tersebut.

kalo mau di perhatiin, sekarang banyak pengunjung warnet dari kalangan anak-anak
yang tentu saja menguntungkan pemilik warnet karena mereka pasti akan menghabis
kan waktu berjam-jam di depan PC yang artinya akan banyak uang yang keluar dari
kantong anak-anak tersebut.

kehadiran anak-anak ini akan lebih banyak ketika hari minggu tiba. dari pagi
mereka akan segera berlomba-lomba untuk lebih cepat sampe ke warnet biar
dapet tempat nyaman untuk bermain. bahkan gua pernah melihat seorang anak
menangis ketika di suruh pulang sama ibunya karena dari pagi maen di warnet
terus sampe-sampe si ibu harus sedikit memaksa untuk mengajaknya pulang.

kalo mau kilas balik ke jaman masa kecil gua dulu sebenernya juga udah ada
game-game seperti yang berkembang sekarang. tapi waktu itu medianya masih
berbentuk Game watch (bacanya Jimbot), Atari, Nitendo dan begitu gua udah mulai ABG alias
SMP nitendo udah ketinggalan jaman karena udah alat baru yang namanya Sega. satu lagi
jangan lupain juga yang namanya Dingdong mesin game yang hanya memasukan uang 100 rupiah kita udah
bisa main game.

maraknya game on-line ini perlahan di sadari atau tidak telah menjauhkan anak kecil dari permainan-
permainan tradisional yang ada sepertil main benteng, petak umpet, galasin (nyebutnya sih Gangsing), layangan,
gambaran, kasti sampe teprak gunung (maennya yang loncat satu-satu terus ujung nya kaya ada gambar gunung).
semua permainan itu sekarang udah jarang gua liat ada di sekitar rumah gua yang masih masuk ke dalam
wilayah pinggiran kota jakarta timur.gua engga tau apakah di wilayah lain permainan 'kampung' ini masih dimainkan
apa engga, tapi gua rasa sih anak sekarang mungkin hampir engga pernah main yang kaya begini lagi.

anak sekarang mungkin lebih betah berdiam diri di depan komputer memainkan game kesenangan mereka sambil tertawa dan
teriak kegirangan bila mereka bisa mengalahkan lawan nya. mereka akan lebih bangga ketika bisa memasuki tahap
level tertentu dan menceritakan kepada teman lainnya. ya gua sebenernya seneng juga melihat ekspresi mereka ketika
mereka bisa bercerita ke teman-temen nya kalo mereka hebat dalam memainkan game tertentu.

pada akhirnya gua juga berpikir setiap anak mempunyai jaman nya sendiri, mungkin anak sekarang maen nya game on-line
dan anak generasi sebelumnya masih bisa memainkan permainan seperti benteng, layangan dan gangsing asalkan itu
menyenangkan masa anak-anak mereka kenapa tidak dilakukan. ada jargon yang mengatakan 'ya namanya juga anak-anak'
yang masih boleh melakukan ini itu tanpa harus dipersalahkan atau dihakimi oleh kita orang dewasa.

ketika permainan tradisional udah di tinggalkan sepenuhnya oleh anak-anak sekarang atau anak-anak di masa mendatang
dan berganti dengan game-game canggih yang ada di internet maupun mesin game seperti playstation (dari tadi ini
maenan engga ketulis) mungkin kata-kata "Di maen bola lagi yu" yang dulu akrab ditelinga kita lewat iklan
layanan masyrakat akan terdengar asing saat ini dan anak sekarang mungkin dengan bangga nya akan
mengucapkan "Di ke warnet lagi yu"

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SGPP, Sekolah Tinggi tempat Para Pengambil Kebijakan Publik Belajar

Sekolah Tinggi Pemerintahan dan Kebijakan Publik namanya. Sekolah tinggi yang dikenal dengan nama SGPP ini mengajarkan bagaimana mengambil kebijakan publik yang dapat berpengaruh di semua sector baik itu secara nasional maupun internasional. Dengan program studi Kebijakan Publik, SGPP ingin menjadikan mahasiswanya tidak hanya bisa menerapkan kebijakan publik namun juga bisa menganalisa kebijakan publik yang konteksnya kebijakan Indonesia namun bisa diterapkan di banyak negara.  Kampus SGPP di Kawasan Sentul Bogor Memasuki halaman kampus ini terasa begitu sejuk. Semilir angin dan pemandangan rumah-rumah penduduk di Kawasan Bogor terlihat dari kampus yang terletak di dataran tinggi Kawasan Bogor ini. Sekilas, bila dilihat, bangunan gedung utama SGPP ini seperti bangunan-bangunan perguruan tinggi yang ada di luar negeri. Begitu menginjakan kaki di bagian depan gedung, kenyamanan ruang perpustakaan begitu terasa. Ruang perpustakaan ini menyatu dengan teras yang biasa digunakan m

Mengunjungi Pabrik Pembuatan Kulkas Halal PT Sharp Electronics Indonesia

Kata siapa label halal hanya untuk produk-produk makanan dan kosmetik saja. Saat ini PT Sharp Indonesia melakukan terobosan dengan memberikan label halal pada produk lemari es atau kulkas keluaran terbarunya. Pabrik pembuatan PT Sharp Electronics Indonesia di Kawasan Karawang, Jawa Barat. Beruntung hari Rabu (9/5) kemarin saya mengunjungi pabrik PT Sharp Electronics Indonesia di Kawasan Karawang Barat, Jawa Barat, untuk melihat langsung proses pembuatan kulkas halal pertama di Indonesia di pabrik yang berdiri sejak tahun 2012 ini.   Sebelum melihat langsung proses pembuatan kulkas Sharp, saya dan teman-teman blogger lainnya dijamu oleh jajaran petinggi dan management PT Sharp Indonesia. Dalam kesempatan ini, Asisten Manajer Strategi Produksi PT Sharp Electronics Indonesia, Afka Adhitya, menjelaskan, alasan PT Sharp Electronics Indonesia mengeluarkan kulkas halal, tujuan utamanya Sharp adalah untuk memberikan rasa nyaman dan aman di tengah masyarakat akan sebuah produk baran

Wisata Kuliner di Pangkal Pinang, Wajib Mencoba Martabak Acau 89

Pulau Bangka di provinsi Bangka Belitung selama ini terkenal dengan objek wisata pantai. Pantai-pantai seperti Pantai Pasir Padi menjadi daerah tujuan wisata di Pangkal Pinang yang banyak dikunjungi wisatawan baik asing maupun domestik. Namun dibalik pesona pantainya yang indah, Pangkal Pinang juga memiliki pesona kuliner yang juga tidak boleh dilewatkan begitu saja. Salah satu kuliner yang sudah sangat terkenal dari daerah ini adalah martabak.  Martabak Acau yang terletak di Jalan Soekarno Hatta, Pangkal Pinang, Bangka Belitung Martabak selama ini identik dengan Pulau Bangka. Kuliner yang belakangan naik daun berkat variasi rasanya yang menggugah selera memang berasal dari provinsi dengan ibukota Pangkal Pinang ini. Nah Tidak lengkap rasanya jika berkunjung ke Bangka tapi tidak mencoba wisata kuliner dengan berburu martabak bangka. Martabak Bangka memang menjadi makanan wajib yang harus dinikmati jika berkunjung ke daerah yang terkenal   kaya akan timah ini. Kita bakala