Langsung ke konten utama

Bus Trans Jakarta, Moda Transportasi Umum Kebanggaan Warga Ibukota



Bus Trans Jakarta, menyebut nama ini tentu saja masyarakat Jakarta sudah sangat familiar. Bus andalan masyarakat ibukota ini memang pelan-pelan menjadi primadona di kalangan para pengguna moda transportasi umum. Saya menjadi salah satu pengguna Trans Jakarta, setiap hari saya menggunakan bus Trans Jakarta untuk mengantarkan saya menjalani rutinitas. Tidak mengherankan, jika saya hampir menguasai seluruh trayek bus yang dikenal dengan sebutan busway ini.
Ini dia miniatur transportasi umum kebanggaan warga ibukota, Trans Jakarta

Semenjak pertama kali diluncurkan sekitar tahun 2004, saya sudah begitu tertarik untuk mencoba naik bus Trans Jakarta. Pertama kali diluncurkan, bus Trans Jakarta hanya memiliki 1 koridor yakni Blok M – Kota. Saya pun saat itu langsung mencoba bus yang pertama kali diluncurkan di era kepemimpinan Bang Yos sebagai Gubernur DKI Jakarta. “Wah seru juga neh ada busway” begitu kesan pertama saya ketika mencoba naik bus Trans Jakarta. Ada sedikit kebanggaan di benak saya sebagai warga Jakarta memiliki bus Trans Jakarta yang konon konsepnya mencontoh project bus di Kolombia sana.  
Sejarah singkat keberadaan Trans Jakarta di Ibukota Jakarta

Seiring berjalannya waktu, pembanguan koridor bus Trans Jakarta pun semakin menyebar di hampir seluruh wilayah Jakarta. Salah satu koridor favorit saya adalah Koridor Pinang Ranti – Pluit. Koridor inilah yang sehari-hari saya lintasi dengan bus Trans Jakarta. Hampir setiap hari saya naik bus Trans Jakarta dari halte Taman Mini Garuda. Dari halte ini, saya menumpang bus Trans Jakarta untuk membelah jalan-jalan di Jakarta dengan lancar berkat jalur khusus busway yang dimiliki bus Trans Jakarta.
Humas Trans Jakarta, Pak Pras saat berbincang santai dengan para blogger di arena PRJ sabtu lalu
Bicara soal bus Trans Jakarta, Bertempat di area Pekan Raya Jakarta (PRJ), Sabtu(25/6) lalu, saya bersama teman-teman Tau dari Blogger (TDB) berkesempatan untuk berbincang-bincang santai dengan Humas Trans Jakarta, Bapak Prabu Prasetya Budi. Dalam kesempatan ini, kita semua menceritakan pengalaman selama menjadi penumpang bus Trans Jakarta. Mulai dari sarana dan prasarana hingga keberadaan trayek-trayek baru bus Trans Jakarta kita perbincangkan dengan penuh keakraban bersama Pak Pras, sapaan akrab Bapak Prabu Prasetya Budi .  
Nah kalo ini kira-kira caption yang pas apaan ya he..he..

Pak Pras juga mengucapkan terima kasih atas bantuan para komunitas bus Trans Jakarta yang selalu memberi masukan baik berupa saran dan kritik. Semua masukan itu dianggapnya sebagai hal yang perlu didengar demi kemajuan transportasi umum kebanggaan warga ibukota ini. Apresiasi juga Pak Pras untuk TDB karena malam itu banyak masukan yang diberikan untuk Trans Jakarta dari hasil bincang-bincang santai sabtu malam itu. 


Apalagi ke depannya Pak Pras berjanji untuk melibatkan TDB dalam diskusi dan pertemuan dengan komunitas-komunitas pecinta Trans Jakarta. “Komunitas Trans Jakarta ini ada beberapa yang saya tahu. Mereka senantiasa memberikan masukan positif untuk kemajuan Trans Jakarta. Kita pun berjanji untuk terus memberikan pelayanan terbaik kepada para pengguna Trans Jakarta” ungkap Pak Pras di hadapan temen-temen TDB. 


Kalo saya boleh saran sih pak, sebaiknya armada Amari (Halte Malam Hari) sebaiknya di perbanyak dan kalau perlu di setiap koridor ada Halte Amari. Maklum, sebagai pekerja yang terkadang sering pulang hingga larut malam, saya sangat terbantu adanya bus Trans Jakarta yang masih beroperasi hingga larut malam. Jadi saya dan mungkin penumpang Trans Jakarta lainya tidak perlu kuatir untuk tidak ada angkutan umum ketika beraktivitas hingga larut malam.Oke pak, segini aja dulu masukan dari saya, lain kali kita sambung lagi ya pak bincang-bincang hangatnya.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mencicipi Sajian Makanan Kereta Api Milik PT Reska Multi Usaha

Kisah Ajeb-Ajeb Anak Cipayung Part 1 : Dugem oh Dugem......

Ini dia neh kejadian paling hot yang pernah gua tulis. (bayangin, gua nulisnya aje sampe buka baju segala he..he..). ini kisah tentang ajeb-ajeb cuy (karena musiknya bukan dangdut jadi ajeb-ajeb, coba kalo musiknya dangdut pasti bunyinya adut..adut..adut..adut.. jangan sambil joget ya bacanya he..he..) di suatu Pantai Indah yang banyak kapuknya (makanya tempat itu dikasih nama Pantai Indah Kapuk he..he.. walaupun sebenernya gua bingung, pantai yang berkapuknya sebelah mana ya he..he..).

Awalnya disuatu siang pas gua lagi browsing gambar-gambar vulgar dan sedikit cabul untuk web tempat gua bekerja (nama webnya www.langitberita.com, terus klik aja rubrik lifestyle nah entar keluar tuh berita-berita yang gambarnya bikin mata melek terus he..he..). Tiba-tiba ada pesen dari Mr Momot yang isinya gua ngeliput acara dugem di PIK, nama acaranya RnB Parade (wah gua langsung ngayal, rave party di waterboom pasti banyak cewe-cewe seksinya. Udah gitu pasti mereka pada pake pakaian renang, seru neh…

Selamat Jalan Miten…

Kaget sekaligus sedikit engga nyangka ketika siang ini gua mendengar kabar meninggalnya mantan gitarisnya Netral Miten di timeline di twitter gua. Sejenak pikiran gua menerawang pada sosok gitaris gondrong dan pendiam namun permainan gitarnya cukup membuat anak-anak yang melewati masa 90-an  mengenal sosok gitaris yang mungkin salah satu yang terbaik di tahun-tahun itu .
 Iya, dari account twitternya Brutal Band, pertama kali gua ngebaca kabar duka ini dan tidak lama Musisi-musisi  90-an  seperti Ari Lasso juga mengucapkan belasungkawa untuk Miten. Iya, sebagai seorang yang pernah melewati masa 90-an dengan musik-musik yang masih berkualitas , gua emang mengaggumi musisi-musisi di era itu. (Gua dulu sangat hafal siapa aja personil-personil band 90-an karena gua emang hobi koleksi kaset dan setiap beli kaset gua pasti baca tulisan ucapan terima kasih setiap musisi yang ada di covernya, termasuk Miten salah satunya  ).


Miten bersama netral memang cukup fenomenal di tahun 90-an. Saat ba…